UPDATE Banjir Bandang Eropa, 100 Orang Korban Tewas 1.300 Dinyatakan Hilang

- 16 Juli 2021, 22:37 WIB
Banjir Eropa Barat Menewaskan Sedikitnya 44 Jiwa dan Puluhan Hilang di Jerman Musibah Hingga Belanda dan Belgia
Banjir Eropa Barat Menewaskan Sedikitnya 44 Jiwa dan Puluhan Hilang di Jerman Musibah Hingga Belanda dan Belgia /Reuters

KALBAR TERKINI - Eropa Barat diterjang banjir hingga menewaskan 100 orang dan 1.300 orang lainnya dinyatakan hilang pada 16 Juli 2021.

Banjir melanda sebagian negara Eropa seperti Jerman, Belgia, Prancis, Belanda, dan Swiss.

Mengutip dari Euronews.com, ini salah satu bencana alam terburuk yang pernah dialami Jerman sejak Perang Dunia Kedua. Banyak kota dan desa terendam banjir setelah hujan deras.

Sebelumnya pada hari Kamis pihak berwenang mengatakan bahwa komunikasi, termasuk koneksi internet dan telepon, dengan nomor darurat 112 “tidak dapat dijangkau”.

Baca Juga: Idul Adha 1442 H: Dua Puasa Sunah ini Sangat Dianjurkan di Bulan Zulhijah, Nilainya Lebih Besar dari Jihad

Melansir Marketwatch.com, penghitungan sementara, jumlah korban tewas di Belgia telah meningkat menjadi 12 orang, dengan 5 orang masih hilang, otoritas lokal dan laporan media Jumat pagi.


Para pejabat di negara bagian Rhine-Westphalia Utara Jerman, mengatakan, jumlah korban tewas akibat banjir telah meningkat menjadi 43, dengan jumlah total kematian di Jerman dan Belgia di atas 100.

Tim penyelamat berusaha keras untuk menemukan korban selamat dan terus mengupayakan orang-orang yang terjebak di rumah-rumah yang berisiko runtuh.

Baca Juga: Sinopsis Haji Backpacker, Cocok Ditonton saat Hari Raya Idul Adha 1442 H, Perjalanan Spiritual Mada


Ratusan orang masih hilang dan ribuan kehilangan tempat tinggal setelah berhari-hari badai hebat yang menyebabkan banjir bandang di Jerman barat dan Belgia.


Sekitar 1.300 orang di Jerman masih dilaporkan hilang, meskipun pihak berwenang mengatakan upaya untuk menghubungi mereka dapat terhambat oleh jalan yang terganggu dan koneksi telepon.


Banyak desa menjadi puing-puing karena rumah bata dan kayu tua tidak dapat menahan aliran air yang tiba-tiba dan membawa pohon, serta puing-puing lainnya melalui jalan-jalan sempit.

Baca Juga: Idul Adha 1442 H: Menag Larang Takbiran dan Sholat IED di Wilayah PPKM, Termasuk Singkawang dan Pontianak


Kanselir Angela Merkel, di Washington untuk pertemuan dengan Presiden AS Joe Biden, mengatakan dalam sebuah pernyataan “terkejut dengan bencana yang harus ditanggung begitu banyak orang di daerah banjir.”


“Simpati saya untuk keluarga yang meninggal dan hilang. Terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada banyak penolong dan layanan darurat yang tak kenal lelah,” ujarnya.
Banjir bandang pekan ini terjadi setelah hujan deras berhari-hari.


Di Belgia, penyiar RTBF melaporkan 12 orang tewas akibat banjir. Prancis, Belanda, dan Swiss juga dilanda banjir.

Baca Juga: Olimpiade Tokyo 2020 Prediksi Pertandingan Bulu Tangkis Ganda Putri Indonesia Versus Malaysia


Di seberang perbatasan, di Belgia gubernur Provinsi Liege, Catherine Delcourt, mengatakan bahwa setidaknya dua orang telah kehilangan nyawa mereka dan beberapa lainnya hilang.


Pemerintah Prancis mengatakan bahwa 40 penyelamat dari Unit Pelatihan dan Intervensi Keamanan Sipil, serta sebuah helikopter dengan dua spesialis penyelamat air di dalamnya, sedang dalam perjalanan ke Belgia untuk membantu.


Italia dan Austria juga telah menawarkan tim penyelamat banjir ke Belgia.

Sementara satelit darurat Copernicus UE menyediakan peta penilaian daerah yang terkena dampak.

Baca Juga: Idul Adha 1442 H, Berikut 3 Film Bertemakan Lebaran Haji , Ada Film Dokumenter A Sinner In Mecca


Prancis juga dilanda hujan deras dengan 11 departemen timur laut masih dalam peringatan kuning pada Kamis pagi karena risiko banjir.


Pihak berwenang di kota Valkenburg di Belanda selatan, dekat dengan perbatasan Jerman dan Belgia, mengevakuasi sebuah panti jompo dan rumah perawatan semalam di tengah banjir yang mengubah jalan utama kota wisata itu menjadi sungai, media Belanda melaporkan.


Di Swiss, hujan lebat telah membuat tanah jenuh dan menyebabkan tanah longsor dan tanah longsor.


Pihak berwenang di Jenewa merekomendasikan untuk tidak berjalan di sepanjang sungai dan tidak menyusuri Rhône karena kondisi aliran yang tinggi. Tingkat Danau Jenewa juga menjadi perhatian pihak berwenang.***

Editor: Maya Atika

Sumber: Market Watch Euro News


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah